Kelakuan Aneh Pengguna FB Pro Makin Meresahkan

Di tengah gemuruh persaingan platform media sosial, muncul fenomena yang cukup menggelitik sekaligus mengganggu: tingkah laku sejumlah pengguna fitur Facebook Professional Mode – sering disingkat “FB Pro” – yang makin tak karuan. Coba Anda bayangkan, ketika Anda scroll social media tiba-tiba muncul live streaming upacara pemakaman jenazah. Yang bikin makin gedeg lagi, ternyata yang melakukan streaming adalah istri dari jenazah itu sendiri. Sungguh miris, entah apa motivasi ibu ini live streaming dalam kondisi berduka.

Nampaknya fenomena semacam ini menjadi alasan kuat banyaknya anggapan beredar bahwa Facebook adalah sosmednya para boomer yang cenderung gaptek dan baperan. Dari konten asal-asalan hingga aksi berisiko demi cuan, praktik ini bukan hanya mencoreng dunia kreasi konten, melainkan mulai menimbulkan keresahan serius di ruang digital kita. Benarkah semua anggapan itu? Mari kita bahas pelan-pelan.

Apa itu FB Pro?

Fitur FB Pro merupakan salah satu upaya Meta Platforms untuk membuka peluang bagi pengguna biasa agar bisa mengubah akun personal menjadi akun semi-profesional/kreator. Dalam mode ini, pengguna bisa mengakses data performa (insight), monetisasi, dan fitur manajemen yang sebelumnya hanya tersedia bagi halaman (Page) dan akun bisnis. Simpelnya, dengan fitur FB Pro ini memungkinan pengguna facebook mendapatkan uang dari postingan yang ia lakukan, mirip seperti adsense Youtube namun dengan rasa yang berbeda.

Di Indonesia, fitur ini mulai ramai digunakan pada awal 2024, ketika banyak kreator maupun pengguna biasa mulai “naik level” melalui FB Pro. Coba saja Anda buka facebook Anda, berapa banyak komentar bernada seperti ini: salam interaksi, jangkauan luas, saling support ya kawan, terima kasih kejoranya, dan semacamnya. Bahasa-bahasa yang mungkin sebagai orang awam bingung memahami apa konteksnya. Jika komentar-komentar seperti itu sudah banyak Anda jumpai, artinya teman-teman Anda adalah para pegiat FB Pro.

Tren Positif & Awal yang Menjanjikan

Sebelum masuk ke sisi gelapnya, penting untuk dicatat bahwa secara teori FB Pro memang memiliki potensi bagus, antara lain:

  • Membuka jalur bagi siapa saja (tidak hanya perusahaan besar) untuk menjadi kreator dan mendapatkan penghasilan dari konten. Cukup bermodal handphone siapapun bisa menjadi kreator konten. Jika dibandingkan dengan Youtube pun syarat monetisasi cenderung lebih mudah.
  • Memberikan akses ke insight audiens, yang berarti pengguna bisa lebih memahami siapa yang menonton, kapan, dari mana.
  • Bisa menjadi sarana untuk ekonomi kreatif: beberapa ibu rumah tangga di pedesaan misalnya menggunakan FB/FB Pro untuk membantu ekonomi keluarga. Ini pula yang admin rasakan, beberapa teman facebook tiba-tiba semangat mengejar dolar. Dengan demikian, pada satu sisi, FB Pro bisa menjadi alat positif—asal digunakan dengan baik.

Salahnya di Mana?

Seiring popularitas fitur ini, mulai muncul sejumlah indikasi bahwa “monetisasi cepat” di FB Pro melampaui “kualitas konten” yang ditampilkan. Jika Anda sudah jarang membuka akun Facebook Anda, cobalah sekali-kali amati lagi 10 – 15 menit saja. Beberapa kecenderungan konten FB Pro saat ini:

  • Banyak konten yang terasa asal jadi, tanpa narasi yang jelas, tanpa konsep yang matang, hanya “unggah supaya dapat view/like/monetisasi”. Ya wajar saja, karena memang pengguna Facebook rata-rata generasi “tua” yang mungkin telat memasuki iklim sosial media. Pembuatan konten terkadang tidak direncanakan secara matang, cukup dibuat sesempatnya. Tak ada yang namanya konsep, semakin banyak upload semakin luas jangkauan pikirnya.
  • Konten absurd dan bahkan berbahaya seperti live streaming ketika suami meninggal tadi. Lalu ada konten bapak-bapak live streaming sedang makan siang tetapi komentarnya tidak nyambung: jangkauan luas, salam interaksi, semangat monet. Ada juga konten orang sharing momen mau berangkat kerja tetapi fokus video pada jok motor yang sedang berjalan. Belum lagi emak-emak muda yang joget-joget gaya epilepsi tiga detik disertai tagar “jangkauan luas”.
  • Nilai edukatif, etika, estetika konten mulai terkikis. Fokus pembuatan konten bergeser kepada “viral = cuan” atau “viral = banyak dilihat”. Jadi awal mula ide pembuatan konten memang untuk cari cuan, hal ini juga tidak salah. Namun entah kenapa banyak pengguna FB Pro tidak sadar bahwa konten yang bisa bercuan adalah konten yang punya nilai manfaat bagi orang lain.
  • Praktik yang mengabaikan norma sosial: menampilkan konflik rumah tangga untuk tontonan, ibu rumah tangga merekam aktivitas sehari-hari demi engagement, bahkan kadang PNS live streaming sedang melakukan pelayanan kepada warga tanpa melihat perlu dijaganya privasi orang lain dan kerahasian data negara.

Mengapa?

Jika kita renungkan secara mendalam, mungkin ada beberapa faktor yang membuat fenomena konten-konten aneh ini semakin mencuat, diantaranya:

a. Motivasi monetisasi yang tinggi

Tak ada yang salah dengan monetisasi, karena monetisasi adalah reward bagi kreator atas effort menuangkan pikiran dengan kreativitasnya. Namun, karena monetisasi relatif mudah (cukup follower tertentu, aktif, dll) maka banyak pengguna yang tergoda “unggah apa saja” demi cuan. Sebuah artikel menyebut “monetisasi jalan terus meski kualitas nol”.

b. Kurangnya literasi konten dan kreativitas

Banyak pengguna yang menganggap bahwa “yang penting upload” sudah cukup—tanpa memahami target audiens, tanpa memahami konsep narasi. Sebenarnya di dalam facebook sendiri telah dibekali berbagai tools untuk memahami statistik dari audiense, namun terkadang hal-hal teknis tersebut luput dari jangkauan para kreator FB Pro.

c. Algoritma dan kompetisi engagement

Untuk “naik” atau “terlihat”, pengguna akan mencoba mendapatkan like/comment/share sebanyak-banyaknya. Sensasi, kontroversi, dan aksi ekstrem bisa jadi alat. Karena algoritma sering mempromosikan konten yang “menarik” (bukan selalu yang berkualitas) maka risiko konten aneh makin besar. Namun, jika dicermati lebih lanjut sebenarnya Meta sendiri telah memberikan rambu-rambu terkait monetisasi ini. Misalnya, komentar-komentar tak nyambung seperti “salam interaksi” bisa jadi akan dihitung sebagai spamming yang justru akan menghambat berkembangnya akun pengguna.

d. Sosial ekonomi & kebutuhan tambahan penghasilan

Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pedesaan maupun ibu rumah tangga menggunakan FB/FB Pro sebagai tambahan pendapatan keluarga. Namun arus ini seringkali tanpa pendampingan yang memadai, sehingga yang muncul adalah praktik “apa saja demi tampak menghasilkan”. Padahal jika mau mengeluarkan sedikit lagi effort, konten sehari-hari pun bisa menjadi suatu tontonan yang berkualitas. Sudah banyak contohnya di Youtube. Misal, ibu-ibu memasak membagikan resep masakan, tips trik memasak ala desa yang tentu banyak peminatnya. Bisa juga bapak-bapak di sawah membagikan tips memilih bibit padi yang baik atau mengatasi hama dengan budget murah.

e. Ketiadaan standar etika konten yang kuat dalam praktik

Meskipun platform mempunyai pedoman komunitas, implementasi di lapangan sering tertinggal, kontrol moderasi sulit untuk konten lokal yang viral cepat. Sehingga konten “aneh” atau “eksperimen sensasi” bisa lolos dan tersebar. Tentunya untuk jangka panjang hal ini akan berakibat pada tidak berkembangnya akun, namun selama bisa mendapatkan uang cepat maka tetap akan dilakukan.

Lalu Bagaimana Meningkatkan Kualitas Konten FB Pro?

Perlu diakui bahwa tidak semua pengguna FB Pro “bermasalah”, banyak juga yang berdedikasi dan menghasilkan konten bagus. Namun demi menjaga ekosistem digital yang sehat, berikut beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan:

a. Peningkatan literasi digital dan konten kreatif

Pihak platform, komunitas kreator, hingga pemerintah bisa bekerja sama menyelenggarakan pelatihan: cara membuat konten bermakna, memahami audiens, etika konten, risiko aksi ekstrem demi viralitas.

b. Penguatan regulasi & moderasi konten lokal

Platform harus memperkuat sistem moderasi, filter konten “aksi berbahaya” atau “sensasi murahan”, terutama konten lokal yang mudah viral. Pengguna juga harus dilibatkan dalam pelaporan aktif. Dari sisi platform pun harus menindak tegas jika ada konten yang melanggar aturan.

c. Pendampingan ekonomi kreator dengan etika

Bagi pengguna yang menggunakan FB Pro untuk pendapatan tambahan (mis. ibu rumah tangga, pedesaan), bisa dibuat program pendampingan bisnis kreatif: bagaimana monetisasi dilakukan dengan tetap menjaga kualitas dan norma. Ini bisa dilakukan melalui CSR BUMN yang biasa menyasar warga dengan komunitas binaannya. Undang satu pemateri yang mumpuni, arahkan dan bina pelan-pelan.

d. Kesadaran pengguna untuk memilih dan mem-filter feed

Pengguna umum juga punya tanggung jawab: memilih siapa yang akan di-follow, menyaring konten yang berkualitas, dan menghindari memberi “like” atau “share” pada konten yang hanya sensasional. Ini yang agak susah memang, karena dari dulu sejak zaman infotainment di televisi memang sesuatu yang berbau sensasional akan cepat viral. Terkadang keviralan mengalahkan akurasi berita. Akibatnya sekarang banyak sekali klarifikasi permohonan maaf.

e. Format dan algoritma yang lebih baik dari platform

Platform seperti Facebook bisa menyesuaikan algoritma agar bukan cuma “engagement tinggi = viral” tetapi “engagement berkualitas = lebih diprioritaskan”. Memberikan reward (monetisasi) juga berdasarkan kualitas dan dampak konten, bukan semata kuantitas.

Kesimpulan

Fenomena kelakuan aneh pengguna FB Pro adalah refleksi dari dua realitas yang bertabrakan: satu sisi ada dorongan ekonomi kreatif yang sah dan peluang besar; sisi lainnya ada tekanan untuk viral, monetisasi cepat, dan perlombaan konten yang sering mengabaikan nilai.

Jika dibiarkan, ruang digital kita bisa dipenuhi oleh konten yang bukan hanya tidak bermutu, tetapi juga berpotensi merusak moral, norma, dan kualitas interaksi sosial. Untuk itu, semua pihak—platform, kreator, dan pengguna—harus berperan dalam mengembalikan keseimbangan: monetisasi dan kreativitas memang penting, tapi bukan dengan mengorbankan etika, kualitas, dan tanggung jawab sosial.

Baca artikel menarik lainnya di sini!