Belum lama ini dunia desain grafis mendapat kejutan besar. Setelah lama dikenal sebagai “saingan kecil Adobe”, 31 Oktober 2025 Affinity merilis versi terbarunya yang benar-benar mengguncang pasar. Affinity Studio alias Affinity v3. Setelah berbulan-bulan beredar rumor yang kurang mengenakkan bagi pengguna lama Affinity, nampaknya update kali ini cukup melegakan bagi sebagian pengguna Affinity. Bukan sekadar update biasa, mereka mengubah seluruh cara kerja industri kreatif.
Adobe telah menjadi raja di dunia grafis dengan Adobe environmentnya. Beragam software ternama menduduki top of mind dalam dunia kreatif, ditambah mudahnya interaksi antar software. Namun, bayangkan cukup satu aplikasi bisa menggantikan Photoshop, Illustrator, dan InDesign sekaligus — dan ini semua gratis. Ya, inilah yang dilakukan Affinity Studio (nama lengkap: Affinity by Canva), aplikasi all-in-one yang digadang-gadang akan jadi masa depan software desain.
Revolusi Total
Sebelumnya, Affinity memiliki tiga aplikasi terpisah:
- Affinity Designer: untuk mengolah gambar vektor, saingan kecilnya Adobe Illustrator.
- Affinity Photo: untuk mengolah foto atau gambar pixel, saingan kecilnya Adobe Photoshop.
- Affinity Publisher: untuk layouting dan dan penerbitan.
Ketiga aplikasi ini telah berjalan hingga versi kedua dan mendapatkan pengguna yang cukup loyal. Meskipun secara fitur belum selengkap produk-produk Adobe, namun fungsi dasarnya sudah cukup setara. Ditambah lagi sistem sekali beli yang sangat disukai, dibanding Adobe yang menerapkan subscription dengan harga yang cukup ‘lumayan “nendang” bagi pengguna di Indonesia.
Kini, ketiga aplikasi ini disatukan dalam satu wadah bernama Affinity Studio, dengan user interface yang lebih modern dan sistem kerja lintas fungsi. Tak perlu lagi repot berpindah dari mode vektor ke mode foto dan ke mode layout karena semuanya berjalan dalam satu aplikasi. Berdasarkan pengalaman admin menjajal aplikasi ini, memang cukup menakjubkan performanya, bahkan terasa lebih ringan dibanding Affinity versi 2. Dan Affinity menjanjikan ini semua gratis untuk selamanya.
Canva Masuk, Dunia Desain Berubah
Pada awal 2024, Canva — platform desain online populer asal Australia — mengumumkan akuisisi terhadap Affinity dari perusahaan bernama Serif. Inilah awal mula rumor-rumor tak menyenangkan menyebar. Banyak yang cukup kecewa dengan Affinity karena sudah dibeli dan dikhawatirkan akan “terkontaminasi” dengan AI dengan model subscription. Selama ini memang ada rumor dan meme sosial media bahwa Canva dikenal sebagai platform untuk desainer instan. Ya, memang mendesain dengan canva lebih mudah, orang awam sekali pakai pun pasti bisa. Namun nyatanya tak selalu seperti itu, banyak pekerja profesional pun menggunakan Canva untuk alasan kepraktisan.
Peluncuran Affinity Studio pada 31 Oktober 2025 akhirnya membuktikan arah itu. Sekarang Canva bukan hanya platform “drag-and-drop” ringan, tapi juga memiliki senjata kelas profesional untuk desainer sejati.
Dengan Affinity di bawah payung Canva, batas antara desain profesional dan desain instan semakin kabur.
Adobe vs Affinity: Pertarungan Dua Dunia
Sudah dua dekade terakhir Adobe mendominasi dunia desain grafis. Hampir semua desainer, dari agensi hingga mahasiswa, akrab dengan Adobe Photoshop, Illustrator, dan InDesign karena memang ada istilah Adobe sebagai industry standard. Namun ternyata dominasi ini disertai dengan satu hal yang banyak dikeluhkan bahkan oleh para pengguna setianya: biaya langganan yang mahal.
Model subscription Adobe Creative Cloud membuat banyak pengguna harus membayar tiap bulan tanpa henti. Sementara Affinity sejak awal dikenal karena lisensinya yang sekali beli seumur hidup. Tak sedikit pengguna setia Adobe beralih ke Affinity karena sistem pembayaran yang dianggap lebih pro pengguna. Dari sisi user interface, fitur-fitur, hingga pengaturan shortcutnya pun sangat mirip. Ini yang membuat Affinity banyak digemari, meskipun selama ini hanya dianggap sebagai anak bawang saingan Adobe. Namun kini dengan versi gratisnya, Affinity Studio benar-benar menekan dinding pertahanan Adobe.
Secara di atas kertas Adobe tentu masih unggul dari segi ekosistem dan integrasi — misalnya dukungan plugin, koneksi ke After Effects, dan kolaborasi cloud. Belum lagi aplikasi-aplikasi lain seperti Adobe Audition, Premier Pro, Adobe Animate, Adobe Dreamweaver, dll yang belum ada substitusinya di Affinity.
Namun, dengan Affinity Studio, desainer kini punya alternatif kuat yang lebih ringan, cepat, dan ekonomis.
Dan perlu diingat bahwa Affinity tetap mendukung format PSD, AI, PDF, dan SVG, artinya kompatibel dengan file-file dari Adobe. Ini membuat para desainer yang ingin murtad dari Adobe bertransisi dengan mudah, tanpa kehilangan proyek lama.
Ke Mana Arah Dunia Desain Grafis Setelah Ini?
Dengan dirilisnya Affinity Studio, momen ini bukan sekadar peluncuran software baru. Ini bisa jadi sinyal besar bahwa dunia desain sedang bergeser. Arah perubahan ini bisa dirangkum dalam lima tren besar:
1. Desain untuk Semua (Demokratisasi Kreativitas)
Dulu, software desain grafis hanya dikuasai oleh profesional. Sekarang siapapun bisa mencoba asal memiliki modal pikiran kreatif dan tekad untuk mencoba. Dengan model gratis seperti Affinity, pelajar, UMKM, hingga freelancer kecil bisa mengakses alat sekelas industri tanpa biaya besar. Diperkirakan akan muncul lebih banyak desainer independen dan brand lokal yang punya visual kuat.
2. Integrasi dan Efisiensi
Kini dengan adanya Affinity Sudio satu aplikasi bisa digunakan untuk semua kebutuhan: edit foto, bikin logo, hingga layout brosur. Tak perlu lagi bolak-balik antar software, tidak perlu ribet sinkronisasi file. Inilah efisiensi yang dicari banyak desainer, terutama di era serba cepat. Ke depan, workflow desain nampaknya akan semakin streamlined — satu file bisa mengalir dari ide ke hasil akhir tanpa perlu pindah software.
3. AI dan Otomatisasi Kreatif
Seperti halnya Adobe dengan Firefly, Affinity kini juga menambahkan fitur AI seperti Generative Fill (mengisi area kosong secara otomatis), Background Remover, AI Color Match untuk mencocokkan tone antar elemen. Sebagian fitur AI ini diberikan secara gratis, namun kebanyakan memang berbayar. Dengan integrasi ke Canva, fitur-fitur ini jadi lebih ringan digunakan bahkan di laptop non-spesifikasi tinggi. Artinya, AI bukan lagi ancaman bagi desainer, tapi asisten cerdas. Desainer masa depan tak akan digantikan AI — tapi akan digantikan oleh mereka yang tahu cara bekerja bersama AI.
4. Kolaborasi Antar Platform
Bisa jadi ke depan nanti sebuah tool desain tidak lagi berdiri sendiri. Kini semua harus bisa lintas alat. File dari Affinity bisa dibuka di Canva, dikonversi ke Adobe, atau diunggah langsung ke media sosial.
Tren ini menandakan dimulainya era kolaborasi terbuka. Bagi desainer lokal tentunya ini akan memberikan kebebasan berkarya karena klien bisa datang dari mana saja dengan jenis hasil karya yang diinginkan beragam juga.
5. Evolusi Pekerjaan Desainer sebagai Strategis, Bukan Tukang Klik
Dengan makin banyaknya otomatisasi di era AI ini, desainer masa depan akan lebih fokus pada konsep dan arah kreatif, bukan sekadar teknis. Yang dicari bukan siapa yang paling cepat menggambar, bukan siapa yang jago tracing, bukan pula siapa yang paling cepat dalam layouting, tapi siapa yang paling paham pesan, konteks, dan pengalaman visual yang cocok dengan arah brief dari klien.
Apa Artinya Bagi Industri Desain Indonesia
Bagi desainer lokal, bisa jadi ini adalah kabar baik. Affinity Studio membuka kesempatan besar bagi studio kecil hingga individu untuk:
- Membuat karya profesional tanpa biaya software tinggi.
- Berkompetisi di pasar global dengan alat yang setara dengan studio besar.
- Menjalin kolaborasi lintas negara dengan format file universal.
Sekolah desain dan komunitas kreatif di Indonesia juga bisa memanfaatkannya sebagai alat belajar. Tidak lagi harus bergantung pada lisensi mahal apalagi repot-repot mencari versi bajakan. Dengan legalitas penuh, kualitas desain nasional akan naik kelas.
Kesimpulan
Peluncuran Affinity Studio bukan cuma soal aplikasi baru. Menjadi desainer kini bukanlah suatu hal yang eksklusif, namun inklusif bagi siapa saja yang memiliki skill. Dari software berbayar mahal, ke aplikasi desain gratis yang terbuka untuk semua.
Adobe mungkin masih raja, tapi kerajaan itu kini punya pesaing yang serius. Dan yang lebih menarik, dunia desain kini tidak lagi milik segelintir orang. Ia milik siapa pun yang punya ide, imajinasi, dan semangat untuk menciptakan sesuatu.
Jadi, apakah Affinity akan menggantikan Adobe sepenuhnya?
Mungkin belum sekarang. Tapi satu hal pasti: masa depan desain grafis sudah bergeser.
Dan kali ini, semua orang bisa ikut di dalamnya. Creative Freedom Is Coming!
Baca artikel menarik lainnya di sini!